BANTUL, Joglo Jogja – Banyaknya anak-anak yang sulit memakan ikan yang kaya akan nilai gizi menjadi tantangan bagi para ibu-ibu. Salah satu kelompok masyarakat membuat berbagai olahan makanan dari ikan, salah satunya burger ikan buatan rumahan.
Mariyani (51) salah satu anggota kelompok masyarakat yang tergabung dalam kelompok pengolah dan pemasak ikan projomino mengatakan, pihaknya sebelumnya telah meriset produk olahan ikan. Khususnya yang cocok dimasak dan dapat dikonsumsi anak-anak, dengan menanyakan ke pedagang ikan.
“Kita mencari olahan-olahan apa yang cocok, kita tanya pedagang ikan, kemudian diarahkan menggunakan ikan tuna. Dulu burger sapi, sekarang pakai ikan tuna,” terangnya saat diwawancarai Joglo Jogja, belum lama ini.
Lebih lanjut, ia mengatakan, pembuatan produk dari olahan itu bukan tanpa alasan. Hal itu lantaran banyaknya keluhan orang tua, terkait banyaknya anak-anak yang sulit untuk makan ikan.
“Jadi berawal dari anak-anak yang sulit untuk makan ikan. Burger ini untuk konsumsi anak-anak, jadi tidak terasa kalau makan ikan,” imbuhnya.
Keunggulan dari burger ini adalah dari rasanya. Sebab burger ikan tuna ini tidak berbau amis. “Ada pembeli ibu dan anak, anaknya awalnya tidak mau makan ikan. Terus ibunya memberikan olahan itu, anaknya makan burger dan tidak merasakan kalau itu ikan, jadi tidak amis, itu keunggulannya,” imbuhnya.
Harga burger tuna tersebut, ia banderol dengan harga Rp10.000/pcs. Ia mengaku tetap untung, sebab produk tersebut dibuat sendiri. “Rp10.000 ini masih bisa untung saya. Karena kita membuat sendiri. Dari rotinya, patty nya,” pungkasnya.
Lanjutnya, untuk cara pembuatan patty tersebut cukup mudah. Yakni ikan tuna digiling, dikasih tambahan tepung, dan bumbu. “Bumbunya bawang putih, bawang merah untuk mengurangi amis, ketumbar, merica, pala, dan garam. Kemudian dicetak seperti lontong dan di potong-potong,” bebernya.
Patty tersebut, menurutnya, dapat bertahan hingga lebih dari bulan. Dengan catatan penyimpanannya harus benar. Yakni disimpan di dalam freezer. Selain burger tuna, terdapat burger hitam. Di mana menggunakan tinta cumi sebagai pewarna.
“Ada juga cumi, patty-nya hitam menggunakan tinta cumi. Sedangkan kelompok lain juga mengolah ikan dengan bermacam-macam olahan, seperti nugget ikan, stik ikan,” tuturnya.
Ia menuturkan, setiap harinya, kelompoknya berjualan di sekitar Pasar Seni Gabusan, Bantul. Baik di dalam pasar, maupun di luar pasar. “Dijual di Pasar Seni Gabusan, tiap hari di dalam pasar dan di luar. Kalau di luar, dari sore jam lima sampai malam,” tutupnya. (ara/all)










