BANTUL, Joglo Jogja – Kabupaten Bantul tidak hanya terkenal akan Pantai Parangtritis, namun juga makanan tradisionalnya. Salah satunya yaitu mie lethek, yang terletak di Srandakan, Bantul. Di wilayah tersebut terdapat pabrik mie lethek yang berdiri sejak 1940, di mana cara pembuatannya masih sangat tradisional dengan memanfaatkan tenaga manusia dan sapi.
Pemilik pabrik mie lethek, Yasir Ferry (47) mengatakan, bahwa perusahaan tersebut dibangun oleh kakeknya sekitar tahun 1940-an. Ia menuturkan bahwa pihaknya kini sebagai generasi ketiga penerus pembuat mie lethek.
Proses pembuatan mie lethek pun masih menggunakan cara tradisional, dengan menggunakan sapi sebagai tenaga penggerak untuk menggiling tepung ketela dan tepung tapioka.
“Pencampuran masih tradisional, masih menggunakan tenaga sapi, pakai peralatan yang terbuat dari batu dan kayu. Kalau pakai mesin berubah di rasanya, manual lebih baik dan lebih enak, menurut konsumen juga seperti itu,” terangnya saat ditemui Joglo Jogja, di Srandakan, Kamis (29/9).
Ferry pun menjelaskan proses pembuatannya. Dimulai dari pencampuran tepung hingga penjemuran. “Awalnya tepung singkong dan tepung tapioka dicampur dengan perbandingan 1:1. Kemudian dipress sehingga berbentuk kotak, lalu dikukus, dan kembali untuk dicampur tepung tapioka jika kadar airnya tinggi,” paparnya.
Setelah dicampur dengan tepung tapioka, bahan tersebut kembali dipress untuk dibentuk menjadi mie. Kemudian dikukus kembali, agar lebih higienis dan menjadi tolak ukur kadaluarsa.
“Secara ilmiahnya, dikukus dua kali itu mie akan menjadi lebih higienis, dan menjadi tolak ukur expired. Mie lethek yang sudah kering tersebut, bisa tahan satu tahun jika disimpan ditempat kering,” ujarnya.
Lebih lanjut, setelah dilakukan dua kali pengukusan tersebut, mie didiamkan semalaman. Kemudian paginya, mie lethek tersebut direndam dengan air, lalu dijemur hingga kering.
Ia pun menyebutkan, bahwa mie lethek tersebut hanyalah sebutan. Pada prinsipnya mie ini adalah mie singkong. Dikarenakan bahan bakunya terbuat dari singkong.
“Pada prinsipnya ini mie singkong, mie lethek hanya sebutan karena mie ini berwaran kecoklatan, kalau orang jawa bilangnya lethek,” pungkasnya.
Lebih lanjut, ia menyebutkan, mie ini memiliki berbagai kelebihan. Diantaranya mie ini aman untuk dikonsumsi untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus.
“Mie ini bagus untuk anak berkebutuhan khusus, karena mereka harus meninggalkan terigu, karena ini sebagai salah satu pengganti terigu. Kemudian mie ini sebagai pengganti karbohidrat dan tanpa pengawet, karena mie ini termasuk mie organik,” imbuhnya. (ers/all)










