Uniknya Adrem, Kudapan Legit Khas Bantul

PRODUKSI: Kisminah pembuat kuliner Adrem saat menggoreng kudapan khas Bantul, belum lama ini. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

KEISTIMEWAAN Yogyakarta tidak hanya didukung oleh wisata, sejarah, kesenian, pendidikan dan budaya. Makanan tradisional juga turut andil membawa nama Yogyakarta dikenal oleh berbagai kalangan. Tengok saja beragam kuliner khas Yogyakarta, seperti Gudeg, Bakpia hingga geplak laris manis diborong wisatawan sebagai oleh-oleh saat berkunjung di kota ini.

Namun, ada salah satu makanan ringan tradisional asli Yogyakarta yang keberadaannya mulai punah seiring perkembangan zaman. Makanan tradisional ini adalah Adrem atau sering disebut juga dengan istilah tolpit.

Selamat Idulfitri 2024

Kue Adrem merupakan jajanan manis yang terbuat dari campuran tepung beras, gula merah dan kelapa parut. Jajanan tradisional ini banyak diproduksi di Kabupaten Bantul. Tepatnya di daerah Piring, Kurahan II, Murtigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Memiliki rasa manis gurih, adrem juga dikenal punya bentuk yang unik. Masyarakat sering menyebut kudapan ini dengan nama tolpit, yang merupakan singkatan dari “kontol kejepit”. Hal ini disebabkan bentuknya yang menyerupai bagian alat kelamin pria, yaitu skrotum, jika terjepit.

Baca juga:  Geplak, Jajanan Jadul yang Masih Dipertahankan

Kue renyah ini cukup populer di era tahun 80 sampai 90an. Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan bertambahnya ragam jenis makanan, kue adrem semakin tenggelam kepopulerannya. Meski begitu, di wilayah Sanden, Bantul masih terus memproduksi jajanan legendaris ini.

Salah satu pembuat kue adrem, Kisminah (47) mengungkapkan, setidaknya ada tujuh jenis kemasan yang diproduksinya. Masing-masing harganya berbeda disesuaikan dengan kemasan yang digunakan. “Satu kotak ada yang berisi enam, sepuluh, dua belas, lima belas, dua puluh, dua lima, dan isian Lim puluhan,” katanya.

Baca juga:  Segarnya Berbuka dengan Es Dawet Durian Pelangi

Harga kue adrem isian enam hanya Rp 5.000, isi 10 dibanderol harga Rp 11.000, isi 12 hanya Rp 13.000, untuk isi 15 pembeli cukup merogoh kocek 16.000. Adrem dengan isi 20 cuma Rp 22.000, isian 25 dihargai Rp 27.000. Sementara untuk isi 50 hanya dibanderol harga Rp 53.000. Memang terbilang cukup murah untuk dijadikan oleh-oleh.

Saat ini, adrem masih dapat dijumpai di pasar-pasar tradisional Bantul. Kue adrem milik Mbak Kis ini juga kerap dijual luar kota sebagai oleh-oleh, bahkan beberapa kali pernah merambah ke Malaysia.

Bentuk unik dari kue adrem sendiri diperoleh pada saat proses penggorengan, yaitu dengan cara dijepit dengan bilah bambu. Inilah yang menjadi keunikan tersendiri saat pembuatan adrem. Tak afdhol rasanya jika menggoreng tanpa menggunakan bilah bambu yang dijepit. Setelah digoreng hingga berwarna kecokelatan, kue adrem pun siap dinikmati.

Baca juga:  Kipo, Kudapan Lezat untuk Berbuka Puasa

Sebelumnya dijelaskan, adrem sudah ada sejak Kerajaan Mataram Kuno. Dulu adrem tak hanya menjadi camilan rumahan saja, namun juga suguhan spesial saat hajatan maupun acara penting lainnya. Kini adrem menjadi oleh-oleh yang diburu wisatawan saat berkunjung ke Bantul.

Dikatakan, Kis merintis usahanya sudah sekitar 7 tahunan  Awal mulanya, ada program desa unggulan, di setiap desa harus mempunyai makanan unggulan. Sehingga desanya diproyeksikan untuk membuat kue ADREM. Sejak itulah ia mulai merintis usahanya. “Daerah Piring ini memilih adrem, mengingat adrem ini  makanan dari nenek moyang dulu,” jelasnya. (cr5/abd)