Berburu Jajanan Legendaris di Kauman saat Ramadan

LEGENDARIS: Pedagang sedang menjajakan makanan di Pasar Sore Ramadan Kauman, belum lama ini. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

YOGYAKARTA, Joglo JogjaGang selebar dua meter itu memang hampir tidak kentara dari jalan. Namun banyaknya kendaraan yang berada di sekitarnya menjadi penanda bahwa ada sesuatu yang istimewa di gang tersebut. Di salah satu gang daerah Kauman Yogyakarta itu sedang digelar Pasar Sore Ramadan yang menjajakan aneka rupa menu berbuka puasa. Seperti yang ditemukan wartawan Joglo Jogja, belum lama ini.

Salah satu menu yang sangat legendaris dan menjadi ciri khas di Pasar Sore Ramadan Kauman adalah jajanan kicak. Karena, makanan ini hanya ditemukan selama bulan puasa saja.

“Setiap bulan puasa, saya selalu berjualan di sini. Mengisi waktu sekaligus mendapat tambahan pemasukan karena sehari-hari saya berjualan soto di sekolah,” kata salah satu penjual kicak, Ginah, Minggu (26/3/23).

Salah satu penganan yang dijualnya adalah kicak yang dibuatnya sendiri. Satu bungkus kicak dibandrol dengan harga Rp 4 ribu saja.

Kicak yang dibuatnya ditempatkan di wadah plastik kecil transparan yang diberi alas daun pisang. Alas daun pisang digunakan untuk membedakan kicak yang dibuatnya sendiri dengan kicak titipan dari orang lain.

UNIK: Penampakan Kicak Kudapan khas Ramadan di Kauman.

Jajanan ini terbuat dari ketan yang ditanak dan kemudian ditumbuk hingga menjadi jadah. Penyajiannya dengan taburan kelapa parut dan gula pasir. Vanili, daun pandan, serta sepotong kecil buah nangka ditambahkan untuk menambah cita rasanya.

Salah satu pembeli, Widya mengatakan, kicak sangat cocok dijadikan makanan untuk berbuka puasa. Karena jajanan itu, memiliki rasa manis dan gurih dengan porsi yang tidak terlalu besar.

“Rasanya enak. Kicak ini jadi jajanan takjil yang nikmat,” ungkapnya.

Ada puluhan pedagang yang menjajakan kicak di sana. Namun pelopor pembuat kicak di Kauman diyakini adalah Sujilah atau dikenal dengan nama Mbah Wono. Kicak dengan resep asli warisan Mbah Wono tetap dapat dinikmati oleh pembeli dengan mendatangi salah satu rumah yang juga berada di Gang Kauman. Rumah yang di bagian depannya menggunakan dinding bambu tersebut selalu ramai dijejali pembeli yang ingin menikmati keaslian resep kicak.

Meskipun demikian, pembeli harus datang lebih awal jika ingin menikmati kicak Mbah Wono. Karena kicak sudah akan ludes terjual sebelum pukul 17.00 meskipun setiap hari ada 12 kilogram ketan yang dimasak.

Dari pantauan wartawan, para pengunjung sangat antusias untuk memadati pasar sore Ramadan itu. Selain kicak kudapan legendaris lainnya tentu juga banyak berjejer di stand-stand pasar sore itu. Mulai dari makanan tradisional hingga makanan modern tersedia disana. (cr5/mg4)