Konsisten Jaga Cita Rasa Gudeg Khas Yogyakarta

Pak Narto usai menyajikan menu gudeg komplit
RIANG: Sosok Pak Narto usai menyajikan menu gudeg komplit berisikan sayur krecek, telur, suwir ayam, tahu tempe dibalut arehnya di Sleman, belum lama ini. (ALLAM MUZHAFFAR/JOGLO JATENG)

PAK Narto adalah salah satu penjual gudeg pagi legendaris di Yogyakarta sejak tahun 1978 yang hingga sekarang masih eksis. Gudeg pagi yang ia jual, sejak dahulu masih mempertahankan kearifan lokal dalam proses pembuatannya. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga cita rasa khas gudeg Jogja.

Dimulai dari proses penyembelihan ayam yang dilakukannya sendiri, membuat bumbu masih dengan cara diulek, memasaknya menggunakan kayu bakar. Hingga pembuatan areh (santan kental) yang menjadi bumbu utama gudeg, Pak Narto memasaknya sejak sore sampai dini hari.

Semua itu dipertahankannya dengan konsisten. Sebab, Pak Narto ingin menghasilkan cita rasa gudeg khas Jogja tetap istimewa.

Lha nek mbeleh pitik dewe ki kan wes mesti moco Bismillah, dadi ora khawatir to mas (kalau menyembelih ayam sendiri itu kan sudah pasti baca Bismillah, jadi tidak khawatir kan mas, Red.)”, tutur Pak Narto yang ramah saat diajak berbincang di lokasi berjualannya yang berada di Jalan Wahid Hasyim, Condongcatur, Depok, Sleman, belum lama ini.

Gudeg pagi adalah sebutan yang sering dipakai di Jogja untuk penjual gudeg yang hanya berjualan di pagi hari. Untuk isi atau komposisi dari menu gudeg sendiri semua sama, dengan dua jenis gudegnya, ada gudeg basah dan gudeg kering. Bagi para wisatawan yang ingin menjadikan gudeg sebagai oleh-oleh, direkomendasikan untuk memilih gudeg kering, karena lebih tahan lama dan tidak mudah basi.

Pak Narto, memulai berjualan sejak pukul 05.30 sampai habis. Namun biasanya jam 08.00 atau 09.00 dagangannya sudah ludes terjual.

Saiki wes akeh bakul gudeg mas, tapi aku ra khawatir kelangan langganan mas. Mesti nek sing seneng gudeg tenan, ngerti gudeg sing enak karo biasa wae. Mesti ngko do mbalik meneh (Sekarang sudah banyak penjual gudeg mas, tapi saya tidak khawatir kehilangan pelanggan mas. Pasti kalau orang benar-benar suka gudeg, tau rasa gudeg yang enak atau biasa aja. Mereka pasti akan kembali lagi, Red),” papar Pak Narto dengan logat medok khas Jogjanya.

Jualan gudeg menjadi mata pencaharian utamanya bersama sang istri. Awalnya, Pak Narto berjualan di sebelah selatan Pasar Beringharjo yang kini menjadi pasar buku Shoping Market, kemudian berpindah di Pendopo Alun-alun Utara. Lalu di Pasar Sentul Kota Yogyakarta.

Awal mulanya ia hanya membantu istrinya berjualan. Lambat laun, mengingat biaya yang dibutuhkan untuk pendidikan lima orang anaknya yang cukup besar, lantas ia memutuskan untuk ikut berjualan dengan membuka cabang sendiri. Hal itu dilakukan agar dapat menambah pemasukan untuk memenuhi biaya pendidikan anak-anaknya.

Setelah berjalan dengan dua cabang, ternyata pendapatan yang dihasilkan Pak Narto lebih besar daripada istrinya. Akhirnya ia meminta istrinya untuk dirumah, mempersiapkan barang dagangan dan beliau yang berjualan gudeg.

Bagi Pak Narto, berjualan gudeg adalah identitas dirinya, sembari menghabiskan masa tuanya di umur yang sudah menginjak 75 tahun. Anak-anaknya kini telah berhasil menjalani kehidupan yang mapan dan nyaman dari hasil jerih payah orang tuanya yang berjualan gudeg itu.

Nek gur dinggo urip, nguripi keluarga karo sekolah anak-anake, yo luwih seko cukup mas. Wingi yo ono sing bar nduwurke omah, janenge wong tuo yo ra ketang sitik melu urun to mas (Kalau cuma buat hidup, menghidupi keluarga dan buat sekolah anak-anaknya, ya lebih dari cukup mas. Kemarin anak saya ada yang baru renovasi rumah. Namanya orang tua ya sedikit-sedikit pasti ikut bantu mas, Red.),” kenang lelaki yang masih terlihat bugar di masa senjanya itu.

Kini Pak Narto memiliki empat cabang warung gudeg. Di Pasar Sentul ada dua cabang. Pertama di dalam pasar, dan kedua di luar pasar. Ketiga adalah tempat Pak Narto berjualan sendiri, yakni di Jalan Wahid Hasyim, Condongcatur. Cabang keempat berada di Jalan Wates. (all/mg4)