Rela Antre untuk Nikmati Seporsi Mie

MENYAJIKAN: Penjual Mie Sapi Banteng saat meracik hidangan untuk para pembeli di kedainya, belum lama ini. (ADIT BAMBANG SETYAWAN/JOGLO JOGJA)

BANYAK jenis olahan mie yang dapat ditemukan di Yogyakarta. Mie Sapi Banteng salah satunya. Mie ini, menjadi salah satu kuliner yang banyak disukai orang.

Meski terletak jauh dari keramaian dan berada di perkampungan, namun setiap hari saat buka, pembeli rela duduk antre menunggu pesanan untuk mendapatkan semangkuk mie. Lengkap dengan topping ayam atau daging sapi, plus pangsit. Saat wartawan Joglo Jogja datang, butuh waktu kurang lebih dua jam untuk dapat menikmati olahan itu.

Namanya yang cukup unik yakni Mie Sapi Banteng menjadikan para pengunjung bertanya-tanya akan makna dibalik penamaan itu. Pemilik kedai Mie Banteng Satria menjelaskan, nama Banteng dipilih lantaran lapaknya berlokasi di Dusun Banteng.

Oleh karena itu, ada embel-embel nama banteng di belakangnya. Kedai itu terletak di Jl. Banteng Utama No.25, Banteng, Sinduharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman. Satria sengaja memilih berjualan di halaman rumahnya sendiri.

“Ini supaya mengurangi biaya untuk menyewa ruko. Saya memilih disini agar pengunjung lebih nyaman saja,” terangnya, Rabu (27/9).

Ketika memasuki halaman warung, pengunjung langsung disuguhkan dengan pemandangan pemilik warung yang sedang sibuk memasak dan meracik bumbu. Di sekitar tempat memasak sudah banyak orang yang mengantre pesanan.

Racikan bumbu campurannya pun konsumen dapat memilih sesuai selera. Ingin dibuat asin, manis, atau pedas. Topping sebagai pelengkap makan mie juga diberikan dua pilihan, bisa ayam atau sapi yang dimasak merah, atau dikombinasikan keduanya.

Walaupun harus menunggu dalam hitungan jam untuk dapat menyantap mie sapi merah dan pangsit basah atau segar, semuanya terbayar ketika makanan tersebut terhidang di atas meja. Tampilannya pun cukup menggugah selera.

Campuran bumbu yang pas membuat mie ini mempunyai cita rasa yang khas. Salah satunya berasal dari perpaduan antara chili oil yang difermentasi selama satu minggu dan canola oil yang kemudian dijadikan bumbu utama. Sehingga rasa mie ini berbeda dari mie lainnya.

SIAP DISANTAP: Penampakan satu porsi Mie Sapi Banteng di sajikan bersama satu porsi pangsit yang siap dihidangkan.

Tekstur mienya pun tidak terlalu lembek ataupun keras. Tetapi mulur lembut. Begitu juga dengan pangsit basah yang banyak diburu pelanggan. Pangsit dibuat saat ada yang memesan dan konsumen dapat dengan jelas melihat proses pembuatannya di dapur yang memang terbuka di depan warung.

“Penyajian pangsit kami membuatnya dengan bumbu yang sama seperti yang digunakan untuk mie ditambah taburan daun bawang di atasnya,” jelasnya.

Mie Sapi Banteng ini hanya dapat dinikmati di tempat karena tidak tersedia di layanan online pengantar makanan. Warung ini juga tidak membuka cabang karena pemilik warung pun tak berniat untuk membuka cabang.

“Memang warung dibuat sengaja hanya ada satu dan tidak berniat membuka cabang supaya eksklusif,” akunya.

Tempat makan ini cukup mudah ditemukan walaupun lokasinya tidak berada di tepi jalan. Warung tersebut buka tiap Senin sampai Sabtu dari pukul 11.00 dan last order pukul 16.00. Seporsi mie di warung ini dibandrol dengan harga Rp 15 ribu. Tak berbeda dengan pangsit basah, juga dipatok dengan harga Rp 15 ribu per porsi.

“Untuk pangsit goreng dijual Rp 4 ribu per buah. Sementara untuk toping ayam atau sapi cukup menambah uang empat ribu rupiah,” imbuhnya.

Salah satu pembeli asal Kebumen, Abdul Hakim (26) mengaku, sangat tertarik dengan hidangan berbahan mie itu. Awalnya ia hanya mendapatkan rekomendasi dari teman kuliahnya, namun kini menjadi langganan di Kedai Mie Sapi Banteng.

“Rasa istimewa dengan harga yang ramah dikantong, yang membuat saya rela mengantre untuk Mie Sapi Banteng ini,” demikian kata Abdul. (bam/mg4)