Berbuka Puasa dengan Kopi Arab di Masjid Layur

TERSEDIA: Secangkir kopi Arab lengkap dengan makanan untuk berbuka puasa. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

TRADISI berbuka puasa dengan meminum kopi Arab di Masjid Layur Semarang sudah berlangsung turun menurun sejak tahun 1802. Kebiasaan ini berasal dari rutinitas masyarakat keturunan Arab-Jawa yang setiap pagi minum kopi ini sambil menikmati kue maryam di rumahnya.

Tokoh masyarakat setempat, Hamid (60) mengatakan, pada zaman dahulu kampung Layur menjadi pusat perdagangan di seluruh dunia melalui jalur laut. Baik itu rempah-rempah, bahan makanan, pakaian, dan masih banyak lagi. Wilayah ini bahkan terbilang cukup besar bila dibandingkan dengan Pasar Johar.

Selamat Idulfitri 2024

“Kampung ini masyarakatnya mayoritas dari orang-orang Melayu. Seperti dari Sulawesi, Johor, Kalimantan itu bermukim disini. Ada komunitas Arab, India, dan China yang datang untuk berdagang disini. Tapi disini lebih kuat keturunan Jawa-Melayunya. Karena posisi Islam Arab lebih kuat, mereka jadi pengurus (Masjid Layur, Red.) dipercaya sama masyarakat sini. Hingga kopi arab menjadi ciri khas dari tempat ini selama bulan Ramadan,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng, belum lama ini.

Baca juga:  Berkah Ramadan, Penjualan Peci Batik Jogokaryan Naik 5 Kali Lipat

Adapun tradisi sebelum berbuka puasa yang dilakukan antara lain mendengarkan tausiyah dan bersalawat sambil menunggu azan magrib. Setelah itu, para pengunjung akan mendapatkan secangkir kopi beserta makanan untuk berbuka puasa.

TERSEDIA: Secangkir kopi Arab lengkap dengan makanan untuk berbuka puasa. (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

“Satu cangkir satu orang. Sehari 50 cangkir. Bisa lebih tergantung banyaknya pendatang,” katanya.

Ia mengungkapkan, proses pembuatan kopi Arab terbilang mudah. Semua rempah-rempah seperti sereh, jahe, kapulaga, kayu manis, jinten, gula pasir, dan gula Jawa direbus selama satu hingga dua jam hingga menguap.

“Setelah menguap baru dimasukkan kedalam ceret lalu baru dikasih kopi dan diaduk. Kopinya bebas merek Luwak atau Kapal Api juga bisa,” jelasnya.

Baca juga:  Berburu Takjil Bubur Legendaris di Masjid Pekojan

Meski merek kopinya berbeda-beda, kata Hamid, hal itu tidak mengurangi cita rasa dari kopi Arab. Dirinya menyakini, adanya rempah rempah di dalam kopi Arab membuat tubuh terasa hangat, dan aktivitas sehari-hari jauh lebih ringan.

Bagi penikmat kopi, tentu kopi Arab akan menjadi salah satu rekomendasi minuman yang menyegarkan dan mampu menjadi obat. Karena tercium aroma rempah-rempah yang dapat menyehatkan tubuh. (int/adf)