Selanjutnya, tepung kemudian disisir dan dikukus setengah matang menggunakan wajan berbahan dasar tanah liat. Tepung yang dikukus setengah matang kemudian ditunggu hingga dingin, untuk selanjutnya direndam menggunakan air garam.
“Perendaman menggunakan air garam ini yang nantinya memberi rasa gurih pada horog-horog,” katanya.
Perendaman tersebut dilakukan hingga adonan mengembang dan bentuknya mengkristal. Jika sudah, adonan tersebut kemudian dihancurkan dan dikukus kembali sampai warnanya berubah menjadi mengilap.
Satu kukusan adonan dengan berat sekitar 1,5 kg biasanya dijual dengan harga Rp25 ribu. Rata-rata horog-horog dijual ke pedagang bakso maupun pengecer di seluruh pasar tradisional di Kabupaten Jepara.
Kodar menyebutkan terdapat 47 warga Desa Menganti yang menjadi anggota Paguyuban Sarma. Di mana 25 orang di antaranya merupakan pengrajin horog-horog. Sementara sisanya merupakan tengkulak, baik yang menyediakan bahan baku maupun yang menjual horog-horog.
“Horog-horog ini warisan turun-temurun. Sudah ada sejak zaman mbah-mbah saya dulu,” ujarnya. (oka/adf)










