Kudus  

Tari Caping Kalo Diluncurkan, Ikon Baru Identitas Budaya Kudus

Simbol Hidup dan Jati Diri Perempuan Muria

Seorang penari wanita mementaskan Tari Caping Kalo dengan gerakan luwes di Kudus.
MEMUKAU: Pertunjukan Tari Caping Kalo yang dipentaskan dalam peluncuran di salah satu hotel di Kudus, belum lama ini. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS – Lebih dari sekadar gerak tubuh yang gemulai, Tari Caping Kalo hadir sebagai manifestasi jiwa perempuan Muria yang tangguh namun tetap anggun. Kesenian ini resmi diperkenalkan untuk memperkuat identitas budaya lokal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Peluncuran karya tari tunggal ini berlangsung di salah satu hotel di Kudus, Minggu (8/2/2026). Tarian ini digadang-gadang menjadi napas baru seni tradisi di Kota Kretek, melengkapi kekayaan budaya yang sudah ada.

Koreografer Tari Caping Kalo, Kinanti Sekar Rahina mengungkapkan, karya ini merupakan interpretasi artistik tentang nilai-nilai luhur. Caping Kalo dipilih sebagai sumber penciptaan karena memiliki simbol filosofis yang kuat bagi masyarakat lereng Muria.

“Anyaman Caping Kalo yang rapat dan halus melambangkan hidup rukun, sabar, dan guyub. Kerangka bambunya yang kokoh menggambarkan jiwa yang kuat dan setia pada nurani,” ujar Sekar.

Simbol Penyerahan Diri pada Tuhan

Dalam filosofinya, posisi caping yang berada di kepala menjadi simbol penyerahan diri manusia kepada Tuhan Yang Maha Esa. Nilai-nilai tersebut kemudian diterjemahkan Sekar melalui gerak tubuh yang luwes namun tegas.

Gerakan ini merepresentasikan perempuan Muria yang mampu beradaptasi dengan zaman tanpa meninggalkan jati dirinya. Sekar menegaskan, karya ini berbeda dengan Tari Lajur Caping Kalo yang ia ciptakan pada 2022.

Perbedaannya terletak pada fokus cerita:

  • Tari Lajur Caping Kalo: Menekankan proses teknis pembuatan caping dari awal hingga akhir.
  • Tari Caping Kalo: Menghadirkan caping sebagai subjek yang memaknai kehidupan manusia dan filosofi perempuan.

Produksi tarian ini melibatkan kolaborasi lintas benua. Musik digarap oleh komposer Hamdani, sementara syair dan vokal diisi oleh Romo Lukas Heri Purnawan MSF. Menariknya, lirik lagu ditulis oleh Romo Lukas di sela tugasnya di Buenos Aires, Argentina.

“Menciptakan nuansa Jawa di tengah budaya asing menjadi tantangan, tapi saya berharap syair ini menyatu dengan gerak tari dan memperdalam makna Caping Kalo,” terang Romo Lukas.