Kendal  

Pelabuhan Tanjung Emas Padat, Pemkab Desak Pembangunan Pelabuhan Niaga Kendal

KETERANGAN: Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso saat memberikan sambutan di acara ground breaking di KEK Kendal, Sabtu (2/5/2026). (AGUS RIYADI/JOGLO JATENG)

KENDAL, Joglo Jateng – Kepadatan arus logistik di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dan Tanjung Priok dinilai semakin menyulitkan ekosistem industri di Jawa Tengah. Kondisi ini memicu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kendal untuk mendesak realisasi pembangunan pelabuhan niaga baru di wilayahnya guna menyelamatkan rantai pasok barang.

Bupati Kendal, Dyah Kartika Permanasari mengungkapkan, keterbatasan kapasitas pelabuhan saat ini menjadi tantangan berat bagi daerah yang tengah berkembang pesat sebagai pusat industri, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal.

Pasalnya, sebagian besar arus perputaran barang dari kawasan tersebut masih sangat bergantung pada pelabuhan di luar daerah.

“Sekitar 70 persen masih melalui Tanjung Priok dan 30 persen lewat Tanjung Emas. Namun keduanya sama-sama menghadapi kepadatan,” ujarnya.

Antrean Kapal Capai Sepekan

Lebih lanjut ia menjelaskan, antrean kapal muatan di Tanjung Emas bahkan bisa memakan waktu berhari-hari hingga mencapai satu minggu penuh. Situasi ini berdampak langsung pada efisiensi waktu dan biaya distribusi para pelaku usaha.

Sebagai solusi strategis jangka panjang, pembangunan pelabuhan niaga di Kendal menjadi sebuah kebutuhan yang sangat mendesak.

“Kami terus mendorong agar pembangunan pelabuhan niaga di Kendal bisa terealisasi. Ini penting untuk mendukung aktivitas industri,” katanya.

Keberadaan infrastruktur pelabuhan mandiri tersebut diyakini tak hanya memperlancar distribusi barang dan menekan biaya logistik, tetapi juga memberi multiplier effect bagi pertumbuhan ekonomi daerah.

Pemerintah Pusat Siapkan Solusi

Merespons jeritan para pelaku industri, Sekretaris Kementerian Koordinator (Kemenko) Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengakui telah menerima banyak keluhan. Khususnya terkait tingginya dwelling time dan port stay time di pelabuhan.

Pemerintah pusat menjadikan situasi ini sebagai perhatian serius mengingat efisiensi logistik adalah urat nadi industri yang beroperasi di KEK Kendal.

“Kami sudah berdiskusi dengan berbagai pihak, dan minggu depan akan dilakukan pembahasan khusus untuk mencari solusi. Semua stakeholder akan kita undang, mulai dari operator pelabuhan, bea cukai, hingga instansi terkait lainnya,” ujarnya saat menghadiri kegiatan ground breaking di KEK Kendal, Sabtu (2/5/2026).

Susiwijono memastikan, kelancaran sistem logistik domestik adalah kunci utama dalam menjaga daya saing industri nasional di tengah dinamika rantai pasok global yang semakin sengit. (ags/gih/rds)