Hangatkan Tubuh dengan Minuman Unik Berbahan Tahu

TERTARIK: Pelanggan saat membeli wedang tahu di kedai milik Bu Kardi, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA/JOGLO JOGJA)

UMUMNYA tahu disajikan dengan cara digoreng ataupun diolah dengan cara lain sebagai lauk makan. Namun, pemandangan berbeda dapat ditemukan di lapak milik Bu Sukardi.

Di tangannya, tahu justru disulap menjadi hidangan wedang hangat. Namun, tahu yang dijadikan wedang tentunya berbeda dengan tahu yang selama ini dijadikan lauk. Meskipun sama-sama dibuat dari sari kedelai.

Wedang tahu Bu Sukardi merupakan salah satu warung kaki lima yang konsisten menjajakan minuman tradisional sejak 15 tahun lalu. Hingga kini, produknya masih eksis dan menjadi buruan pencinta minuman hangat dari warga lokal hingga wisatawan.

Bu Kardi, sapaan akrabnya, sudah menekuni usaha wedang tahu sejak tahun 2008. Hingga sekarang, keluarganya sudah memiliki empat lapak usaha wedang tahu.

Lokasinya ada di Jalan Asem Gede Kranggan dan Pasar Pathuk yang buka mulai pukul 07.00 hingga 10.30. Sementara dua lapak lainnya di depan Mirota Godean dan Jalan Pramuka Umbulharjo buka sore hari pukul 16.00 sampai pukul 21.00 malam.

“Kalau lapak pertama yang ada di Jalan Asem Gede Kranggan ini, untuk cabangnya itu ada yang dua bukanya sore, satunya ikut pagi. Jadi biar kalau orang cari dari pagi, sore, sampai malam itu ada terus. Ada pelanggan yang memang lebih cocok buat teman sarapan, tapi ada juga yang cari wedangan malam,” terangnya, belum lama ini.

TERSAJI: Seporsi wedang tahu yang bisa dinikmati pembeli di kedai Bu Kardi.

Wedang tahu adalah minuman tradisional yang terbuat dari sari kedelai, kemudian disisir tipis-tipis dan diberi siraman air jahe. Wedang tahu pada dasarnya berasal dari China yang berkembang di wilayah pecinan seluruh Indonesia. Maka dari itu, setiap daerah di Indonesia menamai wedangan ini berbeda-beda.

“Diberi nama wedang tahu karena berisi sari kedelai yang tampilannya seperti tahu berwarna putih. Dalam pembuatannya pakai teknik khusus untuk menghasilkan tekstur yang lembut. Kemudian diberikan kuah rempah panas yaitu jahe dengan gula jawa pemanis alami,” paparnya.

Satu porsi wedang tahu di lapak Bu Kardi dibanderol dengan harga Rp 7 ribu saja. Dalam satu hari, Bu Kardi biasa mampu menjual hingga 150 porsi dengan menghabiskan 2 panci wedang tahu. Sementara jika akhir pekan atau hari libur bisa bertambah hingga dua kali lipatnya.

“Pembeli itu mayoritas warga lokal, mulai dari orang tua dan anak-anak muda mahasiswa juga banyak. Terus wisatawan yang suka kulineran, cari minuman unik itu ya banyak juga yang datang. Kemarin Alhamdulillah sempat viral di media sosial jadi makin ramai yang datang dan banyak juga yang akhirnya cocok dan jadi pelanggan tetap,” ungkapnya.

Salah satu pelanggan Wedang Tahu Bu Kardi, Suyono menceritakan, sejak dua bulan lalu hampir setiap hari dirinya mengonsumsi wedang tahu sebagai teman sarapan. Rasanya yang unik, manis, dan hangat membuatnya selalu ingin mengonsumsi wedang tahu pada pagi hari. Ditambah minuman ini juga memiliki khasiat yang baik bagi tubuh.

“Sebelumnya saya hanya tahu wedang untuk penghangat adalah uwuh atau wedang ronde. Nah ahirnya ketemu sama Wedang Tahu Bu Kardi yang rasanya tidak kalah enak dan saya cocok. Rasanya segar, jahenya pas hangatnya, dan kembang tahunya lembut. Jadi tiap sarapan ya pasti ditemani sama wedang tahu ini,” pungkasnya. (bam/mg4)