Jadi Pelopor Siomay Tengiri di Kota Yogyakarta

BERAGAM: Pelanggan tengah memilih varian siomay di warung Siomay Kang Cepot, Kamis (7/9/23). (RIZKY ADRI KURNIADHANI/JOGLO JOGJA)

SIOMAY Kang Cepot yang telah berdiri sejak 1991 disebut sebagai pelopor siomay tengiri pertama di Kota Yogyakarta. Tempat makan yang beralamat di Jl. Kaliurang KM.8,5 No.46, Tambakan, Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik ini buka pukul 10.00 hingga 22.00 dan selalu ramai didatangi pembeli.

Salah satu karyawannya, Mardi mengungkapkan, Siomay Kang Cepot menyediakan banyak varian dengan harga yang relatif bersahabat. Sehingga membuat banyak mahasiswa berdatangan untuk membeli. Siomay Kang Cepot bisa menjual 5.000 pcs siomay di hari biasa, dan untuk hari besar bisa melampaui itu.

“Untuk hari-hari besar itu selalu ramai dipenuhi pelanggan bahkan ada yang dari luar daerah yang berdatangan. Karena dulu banyak pelanggan mahasiswa, dan sekarang yang sudah lulus selalu menyempatkan makan disini untuk melapaskan rindunya,” ungkapnya, Kamis (7/9/23).

Adapun pilihan yang disediakan disana antara lain sepert siomay murni, super, biasa, ayam, serta untuk pendampingnya ada tahu, telor, kentang, dan pare. Siomay murni dibandrol dengan harga Rp 10 ribu per pcs-nya, super Rp 5 ribu, biasa Rp 3 ribu, dan ayam Rp 2 ribu. Sedangkan untuk pendampingnya masing-masing Rp 2 ribu.

Mardi menjelaskan, varian siomay murni terbuat 100 persen tengiri asli tanpa tambahan didalamnya, siomay super perpaduan daging dengan ikan tengiri. Sedangkan untuk yang biasa hanya menggunakan sedikit ikan di dalamnya.

NIKMAT: Seporsi Somay Kang Cepot lengkap dengan bumbu kacang.

Pembeli dipersilakan untuk mengabil sendiri apa yang di inginkannya yang selanjutnya bisa untuk digoreng atau tidak. Untuk yang digoreng sendiri nantinya ada tambahan Rp 1 ribu dan bisa memilih bumbu kacang yang pedas atau tidak.

Mardi menambahkan, untuk pembuatan yang tegolong sulit ada di siomaynya. Lantaran prosesnya membutuhkan waktu yang lama. Seperti harus melalui tahap pengupasan ikan, pembuatan pangsit, dan lain sebagainya. Pembuatan awal hingga selesai itu membutuhkan waktu enam jam.

“Dan untuk pembuatannya, pemiliknya dan anaknya juga ikut turun tangan untuk melakukan pembuatannya. Supaya rasa dapat selalu sama di setiap harinya,” tuturnya.

Dalam pembuatan siomay sendiri, Mardi mengaku tidak ada yang spesial di dalamnya karena hampir mirip seperti yang ada di tempat lainnya. Mungkin yang membuatnya berbeda adalah tektstur dan komposisi bumbu kacangnya.

“Untuk cara pembuatannya mungkin sama namun tergantung orang menikmatinya. Seperti bumbu kacangnya kadang ada yang terlalu kental dan cair, namun kalau di siomay kang cepot ini selalu pas,” jelasnya. (riz/mg4)