SLEMAN, Joglo Jogja – Pemerintah Daerah (Pemda) DIY menggelontorkan 8.000 bantuan sosial (bansos) pangan untuk lansia non penerima pensiunan, PKH, dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT). Uang Rp300 ribu disalurkan melalui rekening digital setiap bulannya. Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X juga meluncurkan Program Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) di Warung Arnis, Wukirsari, Sleman, Rabu (3/4/24).
Sri Sultan mengungkapkan, bantuan sosial menjadi salah satu cara mewujudkan visi kesejahteraan dan kemajuan masyarakat. Selain itu, memberikan penghormatan dan penghargaan kepada para lansia menjadi panggilan jiwa, kewajiban moral yang menuntut tindakan nyata.
Berdasarkan indeks pembangunan kesehatan, terjadi penurunan angka kelahiran, kesakitan, kematian, dan meningkatkan umur harapan hidup. Peningkatan usia harapan hidup itu harus diikuti dengan terciptanya generasi lansia yang tangguh, aktif, mandiri dan produktif.
“Sekarang banyak lansia yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Terutama yang hidup tanpa cukup uang pensiun, aset, atau tabungan. Ini yang harus kita perhatikan,” ujarnya.
Selain membantu memenuhi kebutuhan, bantuan dapat meningkatkan jumlah konsumsi lansia. Sehingga berdampak positif bagi penurunan angka kemiskinan, dan meningkatkan kualitas ekonomi masyarakat.
“Saya melihat penurunan angka kemiskinan ekstrem sebagai sebuah tanda kemajuan karena bantuan sosial. Pada awalnya, mereka hanya mampu belanja Rp500 ribuan saja, kini bisa belanja hingga Rp800 ribuan karena ada tambahan Rp300 ribu dari kita. Ini bagus,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial DIY Endang Patmintarsih mengatakan, persentase lansia di DIY adalah 17,33% dari jumlah penduduk. Jumlah itu terus bertambah seiring meningkatnya Usia Harapan Hidup di DIY. Sehingga, DIY harus memastikan terpenuhinya hak dasar dan kesejahteraan lansia, melalui bansos Jaminan Sosial.
“Program Warung Lanjut Usia Yogyakarta (Waluyo) merupakan terobosan baru, sebagai komitmen DIY menjamin pemenuhan kebutuhan dasar lansia. Mendorong peningkatan kepedulian masyarakat dalam pemenuhan hak-hak lansia, melaksanakan rehabilitasi sosial, perlindungan sosial, pendampingan sosial, advokasi sosial dan memberdayakan warung-warung di sekitar penerima bantuan lansia,” ungkapnya.
Mekanisme penyaluran bansos tersebut berbasis digital, dengan menggandeng Bank BPD DIY. BPD DIY menyediakan rekening virtual dalam bentuk barcode. Selanjutnya lansia dapat mendatangi Waluyo dengan membawa barcode dan KTP.
“Untuk bansos ini sementara akan dilaksanakan selama 1 tahun dan berkelanjutan. Saat ini, terdapat 257 Waluyo di DIY. Warung-warung yang diberdayakan adalah warung-warung setempat. Warung-warung ini juga menerima pencairan pangan melalui program PKH dan komponen anak sekolah,” imbuhnya.
Di sisi lain, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menyebut, bansos JSLU melalui Waluyo merupakan terobosan yang tepat untuk memudahkan lansia mengakses bantuan yang diberikan. “Usia harapan hidup lansia Sleman mencapai 75 tahun. Kami juga terus berupaya agar kualitas hidup, kesehatan, perekonomian, dan kemandirian lansia berbanding lurus dengan usia harapan hidup yang tinggi tersebut,” imbuhnya.
Pemkab juga telah menyalurkan bantuan lansia miskin dan telantar sebesar Rp200 ribu per bulan selama setahun. “Pada Januari lalu, kami telah menyalurkan bansos JSLU kepada 2.034 lansia, dan 2.006 bansos di bulan Februari. Bantuan JSLU disalurkan melalui 122 Waluyo yang tersebar di 17 kapanewon di Sleman. Sesuai ketentuan, bantuan terdiri dari sembako, sayuran, dan buah-buahan,” tandasnya. (bam/abd)










