AHADI Setiawan, yang kerap di sapa Wawan. Merupakan sosok sentral di balik kiprah Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Kudus selama dua periode terakhir. Ia terpilih pertama kali sebagai ketua pada 2019.
Dirinya mengemban amanah hingga 2025 dengan visi yang kuat. Membangun organisasi guru yang profesional, solid, dan benar-benar berpihak pada anggotanya. Sejak awal kepemimpinannya, pihaknya menunjukkan komitmen tinggi terhadap konsolidasi internal.
“Saya aktif membangun komunikasi intensif, ke sembilan cabang PGRI yang tersebar di seluruh Kudus. Menyatukan visi dan misi organisasi agar selaras hingga ke tingkat paling bawah. Saya juga menjalin kemitraan strategis dengan berbagai pihak, terutama instansi pendidikan,” jelasnya, Minggu (29/6/25).
Itu dilakukannya demi memperkuat posisi PGRI. Sebagai organisasi yang mampu memperjuangkan hak dan martabat guru. Salah satu pencapaian penting di bawah kepemimpinannya adalah, mewujudkan transparansi keuangan yang akuntabel.
“Prinsip keterbukaan terhadap anggota, menjadi landasan dalam pengelolaan dana organisasi. Sekaligus menumbuhkan kepercayaan yang makin kuat dari para guru. Adapun dalam hal advokasi, kami berupaya memperjuangkan nasib para guru wiyata bakti,” ujarnya.
Meski terkendala regulasi pusat yang tidak membuka jalur pengangkatan, ia tetap gigih berkomunikasi dengan pihak terkait. Salah satu hasil konkritnya adalah, keberhasilan mendata dan memasukkan nama guru wiyata bakti, ke dalam sistem non-ASN.
“Kerja keras ini mulai membuahkan hasil, saat masa jabatan Pj Bupati Chasan Habibie. Di mana sejumlah guru mulai masuk dalam sistem Dapodik. Dan berpeluang mendapatkan NUPTK. Kami juga turut membantu dinas, memetakan guru PNS,” imbuhnya.










