Angka Kelahiran di Semarang Turun, TFR Capai 1,79 Anak per Perempuan

Kepala BPS Kota Semarang, Rudi Cahyono. (HAFIFAH NUR CHASANAH/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Semarang mencatat angka kelahiran di wilayahnya terus menunjukkan tren menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan hasil Long Form Sensus Penduduk (LF SP2020), Total Fertility Rate (TFR) Kota Semarang tercatat sebesar 1,79 anak per perempuan. Angka ini berada di bawah batas ideal pengendalian penduduk sebesar 2,1 kelahiran anak.

Kepala BPS Kota Semarang, Rudi Cahyono mengatakan, angka tersebut menunjukkan rata-rata perempuan di Kota Semarang hanya memiliki satu hingga dua anak. Bahkan, kebanyakan tidak sampai memiliki dua anak.

Menurutnya, kondisi itu dipengaruhi oleh perubahan pola pikir masyarakat. Warga kini lebih mempertimbangkan kualitas hidup keluarga dibanding jumlah anak.

“Kalau untuk angka kelahiran atau Total Fertility Rate di Kota Semarang sebesar 1,79. Berdasarkan data Long Form Sensus Penduduk 2020, artinya keluarga di Semarang rata-rata anaknya tidak sampai dua,” terangnya saat dikonfirmasi, Minggu (5/7/2026).

“Ada yang punya satu anak, ada yang punya dua anak,” imbuh Rudi.

Rudi menjelaskan, perubahan cara pandang masyarakat menjadi salah satu faktor utama penurunan angka kelahiran.

Orang tua saat ini cenderung memperhitungkan biaya pendidikan, kebutuhan hidup, hingga masa depan anak sebelum memutuskan memiliki keturunan.

Di sisi lain, keberhasilan Program Keluarga Berencana (KB) juga dinilai berkontribusi besar dalam menekan angka kelahiran di Indonesia.

“Kalau dulu pemikirannya banyak anak banyak rezeki. Sekarang orang tua berpikir ketika memiliki anak harus memikirkan masa depannya, biaya pendidikan dan sebagainya,” jelasnya.

“Sehingga ada kecenderungan membatasi kelahiran,” tambahnya.